TUd6GfM5GSYpTSM6BSYoTUYlGd==

Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsabandiyah KH. Shiddiq Piji Kudus

Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji Dawe Kudus dibangun oleh Kyai Muhammad Shiddiq, setelah ia mempelajari ilmu agama Islam dan mempelajari tarekat, serta dibai’at oleh Kyai Haji Romli Tamim Rejoso Jawa Timur, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang Jawa Timur. Sebelum menjadi mursyid Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah, ia dikenal sebagai ulama yang disegani oleh masyarakat, memberikan pengajaran dan membimbing masalah keagamaan kepada masyarakat Dawe, Kudus dan sekitarnya.

Pada tahun 1972, Kyai Muhammad Shiddiq menyampaikan ceramah agama kepada jamaah pengajian yang berjumlah 200 orang bertempat di Masjid al-Wustho yang berada di depan rumahnya. Kegiatan ini merupakan langkah awal Kyai Shiddiq merintis pengajian Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji. Di dalam forum pengajian tersebut ia menyampaikan pemahaman tentang aqo’id-aqidah (aqidah mu’taqod seket), keimanan kepada Tuhan dan para nabi dan rasul Allah, dengan merujuk pada faham
Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang didirikan oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

kh shiddiq piji kudus, mursyid thoriqoh, qodiriyah naqsyabandiah

Masih dalam forum pengajian tersebut, menurut keterangan Abdul Lathif,43 kepada para jama’ah atau muridin, Kyai Shiddiq juga menyampaikan pemahamannya tentang dasardasar syari’at Islam (fikih) yang berlandaskan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dengan merujuk pada salah satu madzhab fikih yang empat, yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hambali.

Melalui pengajian tersebut ia tegaskan bahwa: Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji yang digagasnya, dalam masalah fikih merujuk kepada madzhab Imam Syafi’i. Setelah jama’ah atau muridin diajarkan aqidah (tauhid), syari’at (fikih), dan tarekat (tasawuf), selanjutnya mereka dibimbing mengamalkan tazkiyah al-Nafs dan tashfiyah al-Nafs.

Setelah Kyai Shiddiq merasa yakin semua peserta pengajian tersebut menguasai ketiga ajarannya tersebut, barulah mereka dibai’at menjadi anggota Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji, yang dilaksanakan di Masjid al-Wustho. Untuk mempelajari dan memperdalam masalah-masalah ketasawufan, Kyai Shiddiq juga menggunakan rumah kediamannya sebagai tempat kegiatan pengajian, seperti konsultasi masalah agama, membahas masalah tarekat, terapi ilmu hikmah, dan bimbingan keagamaan Islam.

Pada awal perintisan Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji ini sudah ada anggota 200 orang, semuanya laki-laki dan berumur rata-rata 50 tahun ke atas. Mereka sebagian besar berasal dari beberapa desa di Kecamatan Dawe dan Kecamatan Bae. 

Latar belakang mereka ada yang pernah mondok di pondok pesantren, ada lulusan madrasah, dan ada pula yang tidak lulus sekolah sama sekali. Pekerjaan mereka sehari-hari, ada yang bekerja sebagai petani, pedagang, dan buruh.

Jadi secara umum peserta pengajian Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji generasi awal kebanyakan masyarakat awam dari kalangan petani, pedagang, dan buruh.

Perkembangan Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji dari masa ke masa : 

1. Fase perintisan

Pada masa perintisan tahun 1972 sampai tahun 1977, guru atau mursyid pembimbing Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji ditangani langsung oleh Kyai Haji Musta’in Romli, mursyid Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Rejoso Jombang dan pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Sementara posisi Kyai Shiddiq sendiri sebagai khalifah atau wakil guru mursyid yang sama-sama memberikan pelayanan bimbingan kepada anggota pengajian tarekat. Namun belum diperkenankan membai’at murid menjadi anggota tarekat.

Sebagai khalifah, setiap hari Kyai Shiddiq memberikan pelayanan dan bimbingan tarekat kepada para murid yang datang ke rumahnya, dan satu kali dalam seminggu, setiap hari Minggu mulai jam 08.00 sampai 12.00 WIB, Kyai Shiddiq memimpin pengajian tawajuhan seluruh anggota tarekat di Masjid al-Wustho.

Satu bulan sekali Kyai Haji Musta’in Romli datang ke Piji untuk memberikan bimbingan tarekat dan membai’at anggota baru Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji. Hal ini ia lakukan kurang lebih lima tahun, yaitu mulai tahun 1972 sampai 1977.

2. Pase pendidikan tarekat secara mandiri

Pada tahun 1973 Kyai Haji Musta’in Romli membuat satu keputusan kontroversi bagi para kyai di Jawa Timur, ia memutuskan pindah partai dari PPP ke Golkar. Kepindahannya ini tidak saja membuat para kyai kaget tetapi juga mereka marah karena Kyai Haji Muasta’in telah meninggalkan PPP. Atas tindakannya tersebut, para kyai di Jawa Timur menghukum dan memarginalkannya dari segala kegiatan yang terkait dengan pondok pesantren, tarekat, dan jam’iyah NU.

Karena kesibukannya di Golkar, di samping juga sibuk memimpin Universitas Darul Ulum Jombang, menjadi Ketua Umum Jam’iyah Thariqah Mu’tabarah Indonesia, dan memimpin Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang, kemudian Kyai Haji Musta’in Romli mengurangi kunjungannya ke Piji. Sejak tahun 1977, ia datang ke Piji bila ada acara pembai’atan anggota baru tarekat saja. Hal ini ia lakukan sampai tahun 1983, sebab pada tahun yang sama Kyai Haji Musta’in Romli mengangkat Kyai Shiddiq sebagai mursyid, dan sejak saat itu acara pembai’atan anggota baru Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji dipimpin Kyai Shiddiq. 

3. Pase pengangkatan khalifah

Jumlah anggota Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji semakin bertambah, jika pada awal perintisan tahun 1972 anggotanya hanya 200 orang, pada tahun 1978 jumlah anggotanya sudah mencapai 900 orang, dan pada tahun 1988 jumlah anggotanya sudah mencapai 2500 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka bukan saja berasal dari Kudus, tetapi juga ada yang berasal dari Pati, Jepara, Demak, Rembang, Blora, dan Jawa Timur.

Mengingat jumlah anggota tarekat semakin bertambah dan ditambah kesibukannya menjadi anggota DPRD Kabupaten Kudus periode 1987-1992 dari Golkar, maka pada tahun 1988 Kyai Shiddiq mengangkat delapan orang khalifah atau pembantu guru mursyid Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji. Mereka itu adalah: Kyai Haji Ilyas Manshur untuk daerah Piji Barat, Kyai Haji Nasihun untuk daerah Samiroje, Kyai Haji Ali Muhyiddin untuk daerah Samirejo Selatan, Kyai Haji Nasuha untuk daerah Piji Tengah, Kyai Haji Syahid untuk daerah Jurang, Kyai Haji Hayatun untuk daerah Lau Barat, dan Kyai Haji Abdul Azis untuk daerah Lau Timur.

Dengan pengangkatan delapan khalifah tersebut, pelayanan bimbingan tarekat semakin maksimal, semua anggota tarekat mendapat pelayanan secara penuh, dan peserta pengajian yang berniat menjadi anggota tarekat juga mendapat pelayanan secara cepat, sehingga jumlah anggota tarekat pun dari hari ke hari semakin banyak jumlah. Sampai tahun 1990 jumlah anggota tarekat ini sudah mencapai 5.000 orang, tahun 2000 jumlah anggota mencapai 6.000 orang, dan sampai tahun 2011 jumlah anggotanya sudah mencapai lebih dari 10.000 orang peserta.

4. Pase pembukaan cabang

Walaupun jumlah anggota Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji sampai tahun 2011 sudah mencapai lebih dari 10.000 orang, namun hal ini tidak menghalangi minat Kyai Shiddiq untuk terus mengembangkan ajaran tarekat ini. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai Kepala Desa Piji (1956-1987), menjadi anggota DPRD Kabupaten Kudus dari Golkar (1987-1992) dan aktif dalam kegiatan politik di Golkar Kudus (1972-1997), serta kesibukannya dalam kegiatan di PKB Kudus (1998-2008), Kyai Shiddiq masih sempat membuka cabang Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji di beberapa daerah di luar Kabupaten Kudus. Menurut Kyai Affandi,57 pembukaan cabang ini dimaksudkan untuk memperluas jaringan dan pengikut Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji di beberapa daerah di luar Kudus.

Sampai tahun 2011, Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji telah memiliki empat cabang pondok pesantren yang membuka pengajian tarekat dan masing-masing dipimpim oleh seorang guru mursyid Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah yang mendapat ijazah (khiqoh) dari Kyai Shiddiq, yaitu Kyai Haji Asnawi dari Desa Ngguling Sumur Watu Pasuruan Jawa Timur, Kyai Haji Noor Jusno dari Kabupaten Pati, Kyai Haji Affandi dari Kabupaten Tuban Jawa Timur, dan Kyai Haji Mohammad Shodiq dari Jakarta.

5. Pase pemenuhan fasilitas kegiatan tarekat

Pasa saat perintisan Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji sampai tahun 1975, fisilitas sebagai tempat kegiatan peribadatan tarekat ini hanya terdiri dari sebuah masjid umum (Masjid al-Wustho) dan sebuah rumah pribadi Kyai Shiddiq sebagai tempat menerima tamu yang bermaksud berkonsultasi dan memohon nasehat-nasehatnya. Masjid tersebut seminggu sekali secara rutin dipergunakan untuk menyampaikan pelajaran kepada para murid, tawajuhan, solat berjamaah, dan sebagai tempat pembai’atan.

Namun karena jumlah anggota pengajian semakin bertambah dan banyak yang datang dari luar Kabupaten Kudus, maka pada tahun 1976 Kyai Shiddiq membangun Pondok Pesantren Manba’ul Falah Piji. Bangunan pondok pesantren tersebut berkonstruksi semi permanen, berukuran 300 m2. Fasilitas untuk menunjang kegiatan pendidikan dan kegiatan peribadatan tarekat meliputi bangku, almari, papan tulis, tikar, dan kitab-kitab tarekat. Maka dengan keberadaan bangunan pondok tersebut, kegiatan pengajian dan peribadatan tarekat banyak dilakukan di pondok pesantren.

Pada tahun 1990 bunan Pondok Pesantren Manba’ul Falah Piji diperluas dan rirenovasi total menjadi bangunan berkonstruksi permanen dan bertingkat dua. Bangunan tersebut berukuran 500 m2, terdiri dari beberapa ruangan, yaitu ruang aula atau auditorium, ruang kelas, kamar mandi, perpustakaan, dan ruang para ustadz, serta dilengkapi fasilitas penunjang lainnya. Pengelolaan seluruh fasilitas pengajian dan peribadatan tarekat berada di bawah Yayasan Manba’ul Falah Piji yang dipimpin oleh Kyai Shiddiq.

6. Pase pasca Kyai Haji Muhammad Shiddiq

Pada akhir tahun 2009 Kyai Shiddiq jatuh sakit dan sakitnya tersebut tidak kunjung sembuh sampai dua tahun. Mengingat usianya sudah tua dan sakitnya semakin parah, maka pada tahun 2011 Kyai Shiddiq mengangkat dan memberikan ijazah kepada dua orang putranya, yaitu Kyai Haji Abdul Lathif Shiddiq dan Kyai Haji Affandi Shiddiq sebagai mursyid Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji dan memberikan ijazah sebagai khalifah tarekat kepada Kyai Muhtar Amin Shiddiq.

Tidak lama setelah mengantkat putra-putranya sebagai mursyid dan khalifah Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji, pada tanggal 4 Ramadhan tahun 1431 H, bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 2011, Kyai Haji Muhammad Shiddiq meninggal dunia. Jasadnya dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Manba’ul Falah Piji Kudus.

Sekarang ini yang menjadi mursyid Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji adalah Kyai Haji Abdul Lathif Shiddiq dan Kyai Haji Affandi Shiddiq, dibantu seorang khalifah yaitu Kyai Muhtar Amin Shiddiq. Mereka bertiga merupakan generasi penerus pasca Kyai Shiddiq meninggal dunia. Seperti diutarakan Kyai Abdul Lathif, sepeninggal Kyai Shiddiq kegiatan tawajuhan tarekat di Piji setiap hari Sabdu dan Minggu tetap semarak.

Sumber: Ma'mun Mu'min, STAIN Kudus

Komentar0

Type above and press Enter to search.